A. Hidangan Al Qur’an
Telah dimaklumi bahwa men-tadabbur Al-Qur’an
adalah sebuah hal yang begitu penting. Tadabbur lebih dari sekedar membiarkan
mata mendarat pada ayat-ayat yang dibaca. Dibutuhkan instrumen untuk menyelami
makna yang terkandung dalam ayat tersebut hingga akhirnya jiwa mampu
mengepakkan ‘sayapnya’ menelusuri taman-taman iman lalu kemilaulah muara takwa.
Begitu penting keberadaan kitab-kitab tafsir yang
dikarang para ulama. Dengan wasilah tersebut, seseorang akan mudah mentadabbur
Al-Qur’an karena ia mampu memahami makna ayat maupun tuntutan muatan ilmu yang
dikandung ayat tersebut. Ini akan diraih ketika ia mampu menyelam lebih jauh
lagi dalam lautan tinta para ulama.
Ada langkah-langkah yang begitu efektif untuk
meraih tujuan ini yaitu dengan membaca beberapa ayat kemudian merujuknya tafsir
yang dibahas para ulama:
- Tafsir Muyassar
- Tafsir Kariimir Rahman fiy Tafsir Kalaam al-Mannan karya syaikh Sya’diy
- Tafsir al-Qur-an al-Azhiim karya imam Ibnu Katsir
- Aisaar at-Tafaasir karya Abu Bakr Jabir al-Jazaa-iri
- Tafsir al-Qurthubiy
- Tafsir ath-Thabariy
- Fath al-Qadir karya imam asy-Syaukaniy
- Dan lain-lain.
Keberadaan kitab-kitab di atas sudah sangat
membantu men-tadabbur Al Qur’an. Akan ada letupan-letupan begitu berharga
yang siap membuat jiwa berdecak kagum dan tunduk terhadap syariat Allah, Rabb
alam semesta.
Metode ini begitu efektif ketika seseorang
menghafal ayat dan memang beginilah dahulu para sahabat tidak melanjutkan
pelajaran ayat-ayat selanjutnya sebelum mentutaskan ilmu pada ayat-ayat
sebelumnya.
Metode ini pula akan membantu kehusyu’an ketika
membaca Al-Qur’an karena ia paham makna-maknanya. Begitu pula ketika mendengar
sang imam membaca ayat atau surat, maka pikiran akan siap terstimulasi dan
merespon kandungan makna-makna yang telah dipelajari saat membaca kitab-kitab
tafsir.
B. Hidangan Al Hadits
Begitu pula dengan hadits-hadits, memahami teks
dan tuntutan ilmu yang termuat di dalamnya adalah sebuah kelezatan jiwa, selain
sebagai sebuah tuntutan untuk menghilangkan kebodohan. Orang yang tidak
merasakan kelezatan ilmu adalah orang yang rugi, terhalang pula dari kelezatan
amal. Karena hakekatnya kelezatan sebuah amal, salah satunya, ditopang oleh
ilmu yang menjadi dasar sebuah amal yang ia lakukan.Untuk memudahkan ini, diperlukan juga
langkah-langkah yang efisien apalagi bagi muslim atau penuntut ilmu yang
pendidikannya tidak berlatar belakang ma’had/pondok.
Tetapkan untuk mempelajari sebuah kitab hadits,
misalnya kitab Bulughul Maram. Hal yang terpenting, salah satunya, adalah
keberadaan kitab-kitab syuruh/syarh/penjelasan. Untuk Bulughul Maram sendiri,
begitu baik jika memiliki syarah berikut:
- Fath Dzil Jalaal wal Ikram bi Syarhi Bulughil Maram yang disusun syaikh Muhammad bin Shaleh al-Utsaimin. Kami mendapati kitab ini adalah sebuah kitab yang luar biasa dan layak dimiliki penuntut ilmu.
- Mihnatul ‘Allaam fiy Syarhi Bulughil Maram karya ‘Abdullah bin Shaleh al-Fauzan, anak dari syaikh Shaleh bin Fauzan al-Fauzan.
- Taudhihul Ahkam min Bulughil Maram karya syaikh ‘Abdullah bin ‘Abdurrahman al-Bassam
- Dan lain-lain
Sangat disarankan untuk mempelajari satu hadits
kemudian segera merujuk kitab-kitab yang kami maksudkan di atas.
Misalnya ketika membaca atau menghafal hadits pertama dalam kitab bulughul Maram, maka setelah itu beranjak mencari semua pembahasan yang berhubungan dengan hadits tersebut dari referensi pertama di atas. Dia akan mendapati fawa-id yang dipaparkan syaikh Muhammad bin Shaleh al-‘Utsaimin dan tidak didapat dalam referensi kedua dan ketiga.
Misalnya ketika membaca atau menghafal hadits pertama dalam kitab bulughul Maram, maka setelah itu beranjak mencari semua pembahasan yang berhubungan dengan hadits tersebut dari referensi pertama di atas. Dia akan mendapati fawa-id yang dipaparkan syaikh Muhammad bin Shaleh al-‘Utsaimin dan tidak didapat dalam referensi kedua dan ketiga.
Setelah itu, ia beranjak ke referensi kedua masih
tentang hadits pertama. Ia akan temui beberapa penjelasan yang disusun oleh
syaikh ‘Abdullah bin Shaleh al-Fauzan, anak dari syaikh Shaleh bin Fauzan
al-Fauzan. Ia akan temui banyak fawa-id lain yang tak didapati dalam
referensi pertama dan ketiga.
Setelah itu, ia beranjak lagi menuju referensi
ketiga. Masih tentang hadits pertama, ia akan mendapati paparan ulama yang
disusun syaikh ‘Abdullah bin ‘Abdurrahman al-Bassam, termasuk ikhtilaf para
ulama beserta pendapat yang rajih dalam pandangan beliau.
Begitu pula seterusnya, ia beranjak ke referensi lain yang membahas hadits yang sedang ia pelajari. Sehingga setelah menyelesaikan satu hadits dan penjelasannya akan didapati serpihan-serpihan ilmu yang berhubungan dengan hadits tersebut. Metode ini pula lebih membantu menguatkan memori jika berkeinginan untuk menghafal hadits yang dimaksud.
Begitu pula seterusnya, ia beranjak ke referensi lain yang membahas hadits yang sedang ia pelajari. Sehingga setelah menyelesaikan satu hadits dan penjelasannya akan didapati serpihan-serpihan ilmu yang berhubungan dengan hadits tersebut. Metode ini pula lebih membantu menguatkan memori jika berkeinginan untuk menghafal hadits yang dimaksud.
Kegiatan-kegiatan ilmu di atas sudah sangat
menghabiskan waktu apalagi mereka yang kuliah umum dengan berbagai mata
kuliahnya dan mengikuti majelis ilmu, terutama jika disertai dengan adanya
target hafalan Al-Qur’an maupun Al-Hadits perhari.
Segala puji bagi Allah yang telah menjadikan
bahasa Arab sebagai bahasa ilmu dan menjadikan ilmu sebagai salah satu prinsip
agung dalam Islam. Semoga Allah mengampuni dosa-dosa kami dan menjadikan kami
dan anda sebagai orang yang syahid di jalan ilmu.
***
Asrama LIPIA Jakarta, Ahad pagi, 20 Muharram 1435 H
Asrama LIPIA Jakarta, Ahad pagi, 20 Muharram 1435 H
Penulis: Fachriy Abu Syazwiena
Tidak ada komentar:
Posting Komentar